Oleh: Pit Gialoni | September 4, 2009

Eksekutif Bergaji Rp 8,8 M Bangkrut, Kini Jadi Pengantar Pizza

Sebuah kisah yang dapat dijadikan panutan bagi kita semua, Ken Karpman adalah seorang eksekutif muda yang brilian, yang telah menjadi seorang yang sangat sukses, hidup dalam kemewahan yang bergemilang dengan pundi – pundi uang nya yang tidak akan habis selama 7 turunan, namun semua itu menjadi sirna ditengah krisis global yang melanda seluruh dunia.

Selama 45 tahun, hidup Ken Karpman tampaknya nyaris sempurna. Lulus dengan gelarsarjana S-1 dan MBA (Master of Business Administration) dari universitas bergengsiUCLA ( University of California ), Karpman langsung mendapat kerjaan dengan gaji yang menggiurkan sebagai pialang saham.

Dia pun bisa menikahi perempuan idamannya, Stephanie dan dikarunai dua anak. Mereka bahkan rutin berlibur ke tempat-tempat mewah di penjuru dunia.  Setelah 20 tahun meniti karir sebagai pialang saham, Karpman pun naik jabatan menjadi eksekutif perusahaan. Gajinya pun naik menjadi US$750.000 (sekitar lebih dari Rp 8,8miliar) per tahun !

“Saat itu hidup begitu indah. Kami bisa cetak banyak uang. Entah mengapa situasi itu kok tidak berlanjut?” kata Karpman dalam wawancara sebuah khusus dengan stasiun televisi ABC.

Dari segala sisi, Karpman dan keluarga saat itu hidup dalam “Impian Amerika”(American Dream). Mereka tinggal di sebuah rumah besar nan mewah di kota Tampa , Florida. Rumah mereka pun dilengkapi lapangan golf yang luas. “Saat itu saya sudah tidak tahu berapa harga barang-barang di toko. Pokoknya tinggal bawa troli dan ambil saja,” kata Karpman.

Dia pun begitu percaya diri dengan kemampuannya mencetak banyak uang. Saking percaya dirinya, maka pada tahun2005 dia meninggalkan perusahaan tempat dia bekerja dan membuat usaha sendiri yang sejenis yaitu sebagai perusahaan pialang saham. Untuk mendirikan perusahaan sendiri sekaligus meningkatkan taraf hidup, Karpman dengan enteng mengeluarkan dana US$500.000 dari tabungannya.  Seperti kebiasaan orang-orang Amerika, Karpman juga mengajukan kredit dalam jumlah besar dengan jaminan rumah nya.

Namun, badai krisis keuangan menerpa Amerika Serikat (AS). Karpman tidak bisa menunjukkan kemampuannya sebagai seorang pialang saham yang ulung, Karpman tak mampu menarik investor, sehingga perusahaannya anjlok dan bangkrut. Sejak saat itu, dia menjadi pengangguran dan sulit mendapatkan kerja. Padahal di masa lalu, Karpman tak perlu pusing mencari kerja.

“Dulu, saat menjalani tes wawancara kerja, saya bisa jadi bersikap kurang ajar, karena justru sayalah yang sering menanyai si pewawancara, apakah perusahaannya cukup layak mempekerjakan saya,” kata Karpman dalam wawancara yang ditayangkan di stasiun televisi ABC. “Sekarang  justru saya yang kini berharap-harap minta kerja sambil memegang topi di tangan.”

Saat dia susah mendapat kerja, tabungannya ludes untuk keperluan hidup sehari-hari dia dan keluarganya.

Bahkan, keluarga Karpman kini harus menanggung utang ratusan ribu dolar dan rumah mewah terancam disita pihak kreditur. Mereka pun tak mampu menanggung biaya pendidikan anak-anak disekolah swasta yang mencapai US$30.000 (Rp 352,3 juta). Namun mereka bersyukur ada seorang dermawan yang membantu membiayai uang sekolah anak-anak mereka hingga tahun depan.

Maka, Karpman sudah bertekad, kerja apapun akan dia lakukan, asalkan mendapat uang. Dia pun bersedia turun derajat. Karpman tak lagi mencari posisi-posisi yang tinggi, dia sempat melamar sebagai bartender (peracik minuman di bar) namun ditolak karena kualifikasi nya yang “melampaui” standard untuk seorang bartender.

Istrinya, Stephanie, kini juga akan menjual baju-bajunya yang bertumpuk-tumpuk di lemari pakaian di toko-toko loak.

Akhirnya Karpman mendapat kerjaan baru, namun bukan lagi sebagai eksekutif, melainkan sebagai pengantar pizza di restoran Mike’s Pizza Deli di kota Clearwaer. Pemilik restoran, Mike Dodaro, bingung saat melihat Karpman datang ke tempatnya untuk wawancara kerja dengan mengendarai mobil mewah Mercedes Benz. Dodaro pun terkejut saat membaca CV (riwayat pendidikan dan pekerjaan) Karpman. Untuk menjadi pengantar pizza dari rumah ke rumah tak perlu harus bergelar MBA dan berpengalaman sebagai manajer pialang saham. Dengan kata lain, Karpman tergolong over-qualified.

Namun, Karpman tetap mengambil lowongan itu. Dia rela kini digaji US$7,29 atau sekitar lebih dari Rp.85.000,- per jam – belum termasuk tips yang tentunya sangat jauh dengan penghasilan yang pernah dia dapat pada saat menjadi manajer pialang saham.

Karpman pun tak peduli dengan reaksi istrinya yang kaget dengan profesi suaminya saat ini.

”Menurut saya, yang paling buruk adalah saat datang ke teman sambil berkata, ‘ boleh pinjam uangmu? Menjadi pengantar pizza pun sudah merupakan sebuah kemajuan,” lanjut Karpman.

Dari kisah tersebut, sekali lagi menyadarkan kepada siapa saja yang telah memiliki usaha ataupun pekerjaan, apapun jabatannya, agar selalu ingat diri, bencana dapat datang kapan saja. Patutnya kita syukuri atas pekerjaan yang telah kita miliki sekarang karena pekerjaan tersebut merupakan anugerah Nya.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: